SEMARANG-Apel pengamanan dipimpin oleh Wakapolrestabes Semarang AKBP YUSWANTO ARDI, S.H., S.I.K., M.Si., bertempat di depan Kantor Gubernur Jateng Jl. Pahlawan Kota Semarang.Selasa (20/09/22)

Aksi ujuk rasa menyampaikan orasi yang tergabung dalam GERAM menyampaikan orasi pada pukul 13.00 WIB dengan Longmarc dari bundaran air mancur – ke Depan Kantor Gubernur, dengan jumlah massa ± 70 Orang.

Para pimpinan demonstran menyampaikan orasi dari berbagai aliansi menyampaikan aspirasi dengan cara bergantian dengan isi Orasi-orasi yang disampaikan antara lain :

Orasi Dari Korlap Rahmatullah yudha Belita ( Mahasiswa UNDIP Semarang ), Pelayanan pemerintah saat ini sangat buruk dan banyak menyengsarakan rakyat, Aksi mahasiswa saat ini berjuang demi kesejahteraan rakya, Kenapa ruang aksi kami di batasi dengan kawat berier, Pelanggaran HAM saat ini masih ada. Mahasiswa saat ini menolak kenaikan harga BBM dan menyebabkan kenaikan di semua lini.

Orasi dari Sdr. Mulyono ( KASBI Jateng), Bahwa adanya kenaikan BBM sangat membuat rakyat menjerit, Saat ini barang – barang kebutuhan pokok sudah mengalami kenaikan harga, Penyaluran bantuan saat ini tidak tepat sasaran, Pemerintah harus menghapus pekerja kontrak, karena merugikan buruh di Indonesia, Pengusaha saat lebih leluasa untuk melakukan PHK, Anggota DPR saat ini hanya Duduk manis dan tidak bisa bekerja dengan baik.


Orasi Mahasiswa UIN Walisongo, Kelompok Oligarki saat ini seenaknya sendiri menaikan harga BBM, Kita mahasiswa mau masuk kedalam, tetapi kenapa kami selalu di halangi oleh kawat berduri ini, Anggota Dewan di pilih dari rakyat, kenapa tidak memperjuangkan rakyat dan hanya memikir perutnya sendiri.

Orasi dari Sdr. Junaidi ( Candradimuka), Persoalan tentang BBM, RKUHP dan pelanggaran HAM masih tinggi, Rakyat saat ini sangat tersiksa, bantuan BLT tidak cukup untuk menghibur rakyat, Pemerintah saat ini tidak bisa memperjuangkan dan mensejahterakan rakyat Indonesia.

Dalam kasi tersebut peseta aksi rasa melakukan pembakaran Ban bekas dan massa berusaha untuk masuk kedalam untuk menyampaikan aspirasi akan tetapi bisa di cegah oleh pihak kepolisian Polrestabes Semarang dan hanya diperkenankan untuk menggembok pagar dan memasang Sepnaduk yang bertuliskan “Gedung ini di segel oleh Rakyat.”

Aksi ditutup dengan pembacaan tuntutan di depan pagar Gedung DPRD Propinsi Jateng, dan massa meninggalkan kantor Gubernur dengan aman dan tertib.